Pendidikan Indonesia Diambang Keambrukan, Siapa Peduli?

  • 14 Maret 2012
Pendidikan Indonesia diambang Keambrukan, Siapa Peduli?

Melihat kondisi bangsa Indonesia dari berbagai sudut, membuat hati ini galau dan kacau, masalah yang mendera seakan tak kunjung selesai dan malah silih berganti, korupsi dan pornografi selalu menghiasi televisi setiap hari, Kecelakaan dan kekerasaan yang terasa bosan kita saksikan, bencana dan penistaan agama membuat miris hati kita, kriminal dan kerusakan moral tidak terkontrol dan memaknainya sudah tidak masuk akal, melihat kemiskinan dan ketidakpedulian seperti melihat “makanan” yang kita dapat makan setiap saat dan kesempatan, pelanggaran hukum dan perusakan sarana umum seakan sudah kita maklum. Bangsa ini sudah diambang keambrukan, siapa peduli?

Mencari akar permasalahan yang terjadi sebenarnya sederhana, kita bisa melihat kondisi ini dari dunia pendidikan kita, dunia sekolah adalah aktifitas terbesar dan terlama yang dilakukan bangsa ini, sebagian besar -untuk tidak mengatakan semua- dari kita terlibat dengan dunia pendidikan dan sekolah ini, sekolah aktifitas dasar dan utama yang dilakukan bangsa Indonesia, bila baik hasil pendidikan maka baik pula bangsa ini, pun juga sebaliknya bila ada permasalahan yang mendera bangsa ini, maka yakinlah ada sesuatu yang tidak beres di dunia pendidikan kita. Karena kita semua terlibat dalam masalah pendidikan ini, siapa peduli?

Pendidikan di Indonesia kehilangan arah dan orientasi karena filosofi pendidikan kita tidak jelas, terjadi kerabunan para stakeholders dalam memandang pendidikan dan keraguan yang akut dalam melangkah, imbasnya arah dan tujuan pendidikan tidak jelas, apa yang hendak dicapai dari proses pendidikan yang kita lakukan untuk anak didik? Masing-masing sekolah dan instansi pendidikan berjalan sendiri  yang terkadang diluar kendali dan otomatis tanpa ada kontrol yang kuat. Untuk meluruskan dan menyatukan persepsi pendidikan, siapa peduli?

Beberapa hari lalu, kita dikagetkan dengan adanya anak yang melakukan penusukan dengan senjata tajam terhadap temannya sendiri, dan yang membuat kita lebih tersentak ternyata hal tersebut sudah direncanakan dari rumah dan dilakukan tanpa ada rasa bermasalah, bila masih usia Sekolah Dasar sudah mampu melakukan ini, bagaimana nanti setelah hidup di masyarakat?

Tidak mengherankan bila kekerasan dan tindak kriminal akan semakin meningkat. Belum lagi dengan tauran antar pelajar yang sudah sering terjadi, ini merupakan imbas dari pola pendidikan kita yang tidak menekankan pada keseimbangan dalam proses pendidikan. Penekanan pendidikan yang hanya pada aspek kognitif dengan mengabaikan aspek lainnya, membuat jiwa anak didik menjadi kering dan gersang, pengabaian aspek afektif dan pendidikan karakter membuat anak kehilangan orientasi dan penyaluran emosi. Bila sudah seperti ini, siapa peduli?

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Para guru masih disibukkan untuk berjuang mencapai kesejahteraan sehingga banyak guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, waktu bagi guru lebih banyak di isi mencari sampingan penghasilan dibandingkan dengan usaha memperbaiki diri dan kualitas mengajar. Kualitas yang rendah akan berdampak serius terhadap luaran pendidikan teruatama anak didik, bila seperti ini siapa peduli?

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sarana pendidikan kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya. Kondisi seperti ini tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar anak didik, tetapi juga akan berpengaruh langsung pada keluaran hasil pendidikan. Minimnya sarana belajar tersebut sangat mengganggu nilai-nilai kemanusiaan, karena masalah-masalah pendidikan adalah masalah kita sendiri, sekarang siapa peduli?

Masalah Kesempatan memperoleh pendidikan pun masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat minim dan terbatas. Padahal pola pembinaan dan pendidikan sudah harus dimuali sejak usia dini, kegagalan dalam proses pembinaan di usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Masa pendidikan usia dini adalah golden age yang akan menentukan baik atau tidak proses pendidikan berikutnya. Oleh karena itu selain diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat, juga kepedulian kita bersama untuk ikut berpartisipasi dalam mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut. Siapa  peduli?

Masalah mahalnya biaya pendidikan sudah seperti “hantu” yang akan dihadapi oleh setiap orangtua,  Kalimat “Pendidikan bermutu itu mahal”, sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam “bangku” sekolah. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat tidak mampu dan tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Apakah kita peduli?

Berdasarkan data BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) tahun 2010, Jumlah anak Indonesia usia sekolah tahun 2010 yang terancam putus sekolah mencapai 13 juta yang terdiri dari usia  7 sampai 15 tahun. Kondisi ini sangat ironis karena pemerintah sedang gencar-gencarnya mewajibkan pendidikan 9 tahun.

Dari data tersebut menunjukkan 80% penyebab terjadinya putus sekolah karena faktor ekonomi yang dilatarbelakangi oleh pertama, karena kesulitan ekonomi baik yang tidak punya dana untuk beli pakaian seragam, buku, transport atau kesulitan ekonomi yang mengharuskan mereka harus bekerja sehingga tidak mungkin bersekolah. Kedua, di daerah pedalaman banyak sekolah yang jarak sekolah dengan rumah jauh berjauhan. Ketiga ialah anak usia sekolah di banyak tempat sudah diwajibkan kawin muda sehingga keterbatasan waktu untuk bersekolah makin tinggi. Melihat hal yang miris ini, siapa yang peduli?

Tawuran antar pelajar, pornografi, pornoaksi dan narkoba di kalangan pelajar juga sudah sangat mengkhawatirkan, hampir setiap hari kita mendapatkan berita para pelajar yang mestinya menjadi kebanggaan bangsa, justru malah merusak diri dan terjerembab pada dunia yang merusaknya, bila hal ini dibiarkan terus, dipastkan bangsa ini akan mengalami lost generation. Pilihan hanya dua, membiarkan atau kita ikut peduli. Anak-anak kita adalah pewaris negeri ini, anak-anak kita adalah harapan bangsa ini. Mari kita peduli?

PKPU selama lebih dari 11 tahun berjuang dan berkecimpung untuk memperbaiki dunia pendidikan kita, memang masih jauh dari harapan karena kesenjangan yang terlalu besar, namun bukan berarti tidak memiliki makna, karena sekecil apapun kebaikan yang kita berikan akan berimbas secara langsung pada perbaikan negeri ini.  Sekolah gratis di Aceh untuk anak-anak SD dan SMP dan panti asuhan yatim piatu sudah memasuki tahun kedelapan, lembaga pendidikan TK-SMA di Ternate sekarang sudah menjadi sekolah yang mandiri adalah sedikit dari sekian banyak apa yang dilakukan PKPU selama ini.

Kita semua bisa peduli dan berbagi bersama, PKPU menawarkan banyak alternatif untuk membantu memfasilitasi kepedulian kita semua, ada program brotherhood, bagaimana mempersaudarakan dan mendekatkan satu/beberapa anak dengan anak lain yang tidak mampu, ada program beasiswa peduli, ada peduli perpustakaan yang memberikan jaminan untuk setiap anak dapat membaca dan membuka  jendela dunia, ada program bedah sekolah untuk membantu sekolah-sekolah tidak layak untuk tempat belajar, ada program pelatihan guru, untuk membantu para guru dan stakeholders dalam mewujudakan proses pendidikan yang lebih baik.

Kita tidak ingin bangsa ini ambruk, hanya karena maslaah pendidikan yang mendera terus menerus, kita juga tidak ingin anak-anak bangsa ini kehilangan masa depan yang lebih baik, hanya lantara kita tidak acuh terhadap kondisi bangsa, kita juga tidak ingin masalah-masalah pendidikan terus menghantui bangsa kita. Sekarang saatnya kita memastikan bahwa kita semua peduli!!

  • 14 Maret 2012

Artikel Lainnya

Cari Artikel